Sunday, May 22, 2016

“Analisis Plot Dalam Novel Tungku”

Nama : Rahmat Selisih Mara
Nim : 1406102010039
Mk: Prosa Fiksi

“Analisis Plot Dalam Novel Tungku”
1.     Persistiwa, konflik, dan klimaks
a.     Tahapan awal  ( tahap situation)

No
Hal
Kutipan
Keterangan
1.
Peristiwa 1
Persembunyian ini melelahkan , lari berarti menjadi rusa buruan yang pasrah dihantam luju , ditembus tombak tajam yang diasah dengan batu gunung lalu dilemparkan dari kejauhan . nyawa terancam , nyawa sudah diujung ambang
(tungku :7)
Rentetan peristiwa ini sebagai tahap awal penceritaan, bisa dikatan sebuah keadan pemicu konflik, namun ketika mencermati novel ini dari awal hinga akhir memanglah banyak mengandung banyak peristiwa dan tragedy, oleh karna itu penganalisi merasa ini adalah tahap awal penceritaan atau tahap penyetuasian . pengenalan peristiwa yang menjadisalah satu sorotan dalam novel “tungku”

Peristiwa 2
Pada sebuah senja menjelang Ashar tiab. Di sebuah rumah tua dikampung gerute , orang-orang yang kehilangan akl sehat orang-orang yang gelap mata itu , secara bergantian naik turun mendekap inen ipak( tungku :8)

Peristiwa 3
“tidak ada belas kasih para hantu dan jin pemilik segal syahwat telah memenuhi ruanggan sacral itu ,. Ronta dan permohonan untuk dikasiani menjelam menjadi desah merayu , justru semakin menambah semangat para pemilik benda tumpul itu untuk terus menghujam dengan gairah yang memuncak. (tungku : 9)

Peristiwa 4
Suasana malam semakin dingin dan mencekam , penghuni hutan tak adalagi yang bersuara. Kecuali angin, memaikan iramnya dengan sepenuh hikmat . gugur merapatkan badan kelutut dan mendekapnya , seperti orang yang tengah asyik memainkan kursi goyang.  (tungku : 10)
Gugur ialah salah satu tokoh pemerkosa inen ipak, dalm bimbang ia melarikan diri kehutan, masih dalam tahap pengenalan, namun ia bukan tokoh utam dan bukan sentral yang ingin diceritakn jika merujuk tokoh. Ini adalah babak pengenalan tahap 1.


(Tahap peristiwa / pengenalan bagian 2)
No
Hal
Kutipan
Keterangan

Peristiwa 2.1
Alunan tawa mereka terdengar hingga kerumah ume , rumah yang terletak di ujung akhir persawahan kampung , dengan nada yang khas dengan jengkok irama tersendiri dilakukan secra bersam-sama , seperti nyanyian koor dalam sebuah orchestra di gedung pertunjukkan  megah berkelas (tungku :39)
Masih dalam tahap awal namun banyak peristiwa yang mengundang ke gundahan para tokoh. Percikan-demi percikan kejadian semkain membuat situasi pelik. Namun saya sebagai penganalisi merasa tahap ini masih rawap awal dan peyetuasian dikarnakan novel ini sendiri adalah novel tentang konfik, wajar saja banyak peristiwa yang mengundang keresahan bagi para tokoh didalamnya.

peristwa
Langkah apa itu ? apakah ia akan menghampiri ruamah lalu bertanya diman suami mu ? golongan yang manakah yang datang itu , GAM atau TNI atau para penghianat?


Demikain yang menimpa keluarga meulem. Sagum , putra satu-satunya keluaga itu menghilang secara mistrius . tidak diketahui diman. (tungkub: 42)



Aneh dan rsanya sangat mustahil , ia menghilang begitu saja tanpa jejak. Padahal baru tiga hari yang lalu ia menemuiku untuk mengangkut buah pokotnya kekota bseok pagi (tungku 44).
Gum adalah tokoh yang menghilang secara mistrius, tidak diketahui sebab dan mengapa ia menghilang serta tak diungkap mengapa ia menjadi target incaranm dugaan demi dugaan kembali hadir dalm benak warga dalam novel. Siapa pelakunya GAM atau TNI atau jangan-jangan penghianat? Masih belum terungkap
Berani saya katakana beberpa peristiwa diatas adalah, tahap awal namun syrat akan unsur sebuah konflik. Pembenaran yang saya dapat katakana bahwa tahapan pengenalan dalm novel ii adalh sebuah percikan konflik namun tidak meruncing bahkan sangat tumpul.

Tahap tengah /tahap generating circunstances :tahap pemunculan komflik bagian 1

hal
kutipan
Keterangan

Percikan konflik
Jiwanya kosonng” kata dukun tua berjangkut itu. Tapi penyakit dan ketakutan mila belum ada perubahan sama sekali.
“ia mengalami semacam trauma , tarauma berat . mungkin ini sebagai akibat dari kejadian itu yang cukup membuatnya terpukul. (tungku: 53)
Kejaidn demi kejadin kembali membuat plik, kini keresahn para tokoh mulai tergambarkan. Percikan konflik, kegundahn dan hal-hal yang menyangkut sikis tokoh mulai muncul . peristiwa ini dipicu oleh kembalinya ada orang yang diperkosa. Dan kembali praduga siapa pelukanya kembali munncul.
Dan sebenrnya keresahan yang dialami tokoh terkait antar dia den lingkuangan


Berbeda dengan inen ipak, mila justru gagal diperkosa oleh sejumlah orang berseragam di bawah pohon kopi robusta milik amnya sendiri, karna keburu dibubarkan oleh suara gongongan anjing dan langkah orang sekampung yang seketika berdatagan setelah teriakan mila mengema keseluruh pematang perkebunan kopi. (tungku: 55)


Mila, ketakutan luar biasa, ketika ia tengah asyik asyiknya memetik buah kopi , orang-orang bercadar hitam itu menyergapnya dari belakang. Mereka demikian kuat dan keker, memeluk dan mencium wajah putihnya. (tungku : 55)


Tak ada yang berani membuat tuduhan atau sekedar menebak siapa pelukanya: Gam atau prajurit TNI yang sedang syahwat( tungku :56)

Penaganalisi menemukan sesuatu yang menarik, penceritaan tidak langsung pada tahap selanjutnya atau konflik jika kita merujuk pada acuan kajian penganalisisan. Justru dalam novel ini pengenalan beberapa tokoh/ kajian/ peristtiwa kembali muncul. Saya mengangap ini sebuah khasnya novel. Namun tentu saja tahapan selanjutnya kembali pada acuan kajian, maksunta sebelum kobflik terjadi , pengarang membuat kisah lain diluar dari plot awal “mungkin pengarang berniat membuat plot campuran” namun kurang sempurana karana berpotensi mengalihkan focus pembaca untuk meneruskan bacaan.





Tahap rising action tahap peningkatan konflik
No
Hal
Kutipan
Keterangan

Peningkatan konflik1
Ada suara dari luar rumah yang mencurigakan dua manusia berbeda umur itu.
“suara apa ?”
“yang jelas itu bukan suara cerecet dan kerudik makam anan? Bukan !
“yak au hampir benar inen ipak”
“bukan hampir benar anan tapi benar!”
“ya , itulah susar tumit sepetu iras!
Tampaknya mereka sedang berpatroli dikampung kita mala ini” (tungku 82)
Konflik didalam konflik, novel ini mengisahkan tentanng suasan konflik dimasa silam , jelas banyak perstiwa yang bercirikan konflik dal penceritaan.
Namun pada tahap ini semakin jelas siapa yang disalahkan , yakni gam, tni, dan penghianat.

1.2
“inen ipak bergegaslah kau engkau bersembunyi! Sembunyilah kebalik kebalik susunan tikar itu cepat .
“biar aku yang…” (tungku :83)

1.3
Semoga mala ini tidak terjadi apa-apa inen ipak” kata anan sambil merapatkan tangan kirinya ke dada, tangan kanannya masih memegang tembakau sirih di ujung jari telunjuk dan ibu jari. (tungku :85)

Peningkatan 2
“anan- …..anan.. rumahku. Anaaan . rumahku…!
Tangisan itu semkin mendekat, semakin perih dan semakin luka . derap jejk laki-laki terburu-buru menaiki tangga , berderak mendobrak pintu lalu tersungkur dengan segala kehilangannya. (tungku: 93)
Ini adalah rentetan peristiwa yang tanpa pelaku, kejadian demi kejadian yang tak memiliki tersangaka , para tokoh hanya memiliki dugaan dan asumsi siapa pelaku dari musibah yang ada.

Peningkatan 2.1
“sudah kuduga . sudah kuduga ! kebodohan itu akan terulang lagi . sudah kutebak kedugaan ini akn terjadi lagi. Penghianatan adalh penyebab ini semua ini. Penghianat yang tak termaafkan ! keldai-keledai biada . oooo hiiiiiieeeey
Hiiiieeeyy ( tungku : 95)













Konfik semakin teras, berdasarkan rentetan cerita pembaca sendiri dapat mengenaili keadaan tersebut.


Jangaan! Kita kemari bukan hendak memetik ganja –ganja itu, tetepi mencari dan menangkap gegur, itu tugas utam kita , ingat ituu!
Tapi..”
“alah sudah. Sudah . petik secukupnya lalu kita lanjutkan perjalanan .”
(tungku : 111)


“ gegur, gegur bangun. Bangun kau . pelarian mu telah selesai .
Sejenak ia mengudap matannya . ia tak habis pikir, ternyata tidur pulasnya ditontoni. Ia tidak mengira orang-orang suruhan anan akan tiba di persembunyiannya yang jauh ditengah hutan belantara. (tungku : 113)


“maktum , rusli ikat tangannya “
Dengan sigap kedua nama yang disebut  itu melaksanakan perintah , membalikkan badan lalu mengikat tali dari rotan yang sudah dipersiapkan ( tungku 113)


“gegur , setalah sebelas orang yang memberikan kesaksian , tak satupun diantara mereka , yang tidak menguatkan keterlibatan mu “
“tetapi anan, bukankah ? diantara sakit tangannya yang terikat oleh tali rotan , gegur mencoba angkat bicara . tetapi dengan cepat pula anan memotong selaan itu.( tungku : 143)







Tahap klimaks tengah, climax
No
Hal
Kutipan
Keeeterangan

klimaks
“benar dia orang mengaku sebagi panglima itu?”  (tungku 144)
Bisa dikatakan tahap ini yang menegangkan. Tertanggapnya gegur semkin mencekam keadaaan. Tuduhan demi tuduhan kepada gegur terus digulingkan. Semua warga kampung memiliki dendam tersendiri terhadap gegur. Ini yang menyebabkan ditangkapnya gegur sebagi peristiwa ..


Perempuan bisu seketika itu mangangguk dan menujuk-menujuk gegur dengan jari telunjuk kirinya (tungku: 144)


“betul ia yang mencuri bahan makanan para pengungsi gudang dekat rumah mu ?”
Perempuan itu menganguk anguk dan menunjuk gegur dengan telunjuk tangan kirinya. (tungku:144)


Untuk kesekian kalinya wanita itu menganguk , dan menunjuk –nunjuk geur dengan jari telunjuk kirinya. Geram ia mendekati gegur, lalu dengan sekali hentak tangannya menumbuk kepla gegur , membuat gegur tersungkur( tungku : 144)


“ anan biarkan aku yang membereskannya”
Secepat kuda lari, harun menarik pedangnya dari sarung . geram dan kebencian muncul, memuncak seketika . bayangan raut wajah ayahnnya yang mati akibat ula gegur yang menuduh nya sebagi mata-mata gam  melintas dimatanya dengan jelas. Tidak harun tidak. Tugas kalian telah selesai dengan membawanya kemari (tungku : 147)



“kibasn pedang tajam itu membentur leher bagian belakang Gegur. Lalu terdengar benda jatuh menyentuh bumi. Benda itu terguling-guling sebentar lalu berhenti. (tungku : 150)



Setengah hari mayat itu dibiarkan tergeletak begitu saja , hanya ditutupi dengan lembar daun pisang (tungku 151)


Tahap akhir/ tahap denoument
No
Hal
Kutipan
Keterangan

Peleraiaan.
kibasn pedang tajam itu membentur leher bagian belakang Gegur. Lalu terdengar benda jatuh menyentuh bumi. Benda itu terguling-guling sebentar lalu berhenti. (tungku : 150)
Terbunuhnya gegur salah satu berkahirnya sebuah perkara dan akan di ikuti dengan perkara lainnya.


Ada kepuasan yang tak terhingga dimata beberapa warga, kegerian sirna bersama kecuran daarah memancur. Ada kelegaan maha sempurna, terasa didada. Ada haru tersembunyi dilubuk hati (tungku 151)
Walau sebagian mengagngap ini sesuaruyang berlebihan namun dimata sebagian warga kampung kematian gegur adalah sebuah kemenangan


Kampung gerute menjadi terang benderang . sinar matahari sempurna meskipun tujuh gunung , tingi-tingi mengitarinya mengepungnya dari empat arah mata angina . (tungku : 155)
Seakan akan kehidupan setelah kematian gegeur, dan perjanjian damai GAM dan RI. Menjadi seseuatu yang dapat merubah nasip warga.


Sudah satu tahun empat bulan dua puluh hari pertanyaan itu tidak pernah lagi , mendengar atau bercerita yang berkenaan dengan kebakaran rumah, kamatian atau penculikkan .
(tungku 156)


Sementara acara peminangan itu berlangsung di banda aceh , baru saja digelar hajatan memperingati ditanda tanganinya perjanjian damai antara GAM dan TNI di helsingki. (tungku :162)


Harapan dan mimpi mereka tentu sama dengan harapan dan mimpi masyarakat kampung gerute. Bagaimana kedamain terus berlangsung dengan aman , sehinga kehidupan dapat lebih tenang dan dapat lebih baik dimasa yang akan datang.(tungku : 162 )



No comments:

Post a Comment