Nama : Rahmat Selisih
Mara
Nim : 1406102010039
Mk: Prosa Fiksi
“Analisis
Plot Dalam Novel Tungku”
1. Persistiwa,
konflik, dan klimaks
a. Tahapan
awal ( tahap situation)
|
No
|
Hal
|
Kutipan
|
Keterangan
|
|
1.
|
Peristiwa 1
|
Persembunyian ini melelahkan , lari
berarti menjadi rusa buruan yang pasrah dihantam luju , ditembus tombak tajam yang diasah dengan batu gunung lalu
dilemparkan dari kejauhan . nyawa terancam , nyawa sudah diujung ambang
(tungku :7) |
Rentetan peristiwa ini sebagai tahap
awal penceritaan, bisa dikatan sebuah keadan pemicu konflik, namun ketika
mencermati novel ini dari awal hinga akhir memanglah banyak mengandung banyak peristiwa dan tragedy, oleh
karna itu penganalisi merasa ini adalah tahap awal penceritaan atau tahap penyetuasian . pengenalan peristiwa yang
menjadisalah satu sorotan dalam novel “tungku”
|
|
|
Peristiwa 2
|
Pada sebuah senja menjelang Ashar
tiab. Di sebuah rumah tua dikampung gerute , orang-orang yang kehilangan akl
sehat orang-orang yang gelap mata itu , secara bergantian naik turun mendekap
inen ipak( tungku :8)
|
|
|
|
Peristiwa 3
|
“tidak ada belas kasih para hantu dan
jin pemilik segal syahwat telah memenuhi ruanggan sacral itu ,. Ronta dan
permohonan untuk dikasiani menjelam menjadi desah merayu , justru semakin
menambah semangat para pemilik benda tumpul itu untuk terus menghujam dengan
gairah yang memuncak. (tungku : 9)
|
|
|
|
Peristiwa 4
|
Suasana malam semakin dingin dan
mencekam , penghuni hutan tak adalagi yang bersuara. Kecuali angin, memaikan
iramnya dengan sepenuh hikmat . gugur merapatkan badan kelutut dan
mendekapnya , seperti orang yang tengah asyik memainkan kursi goyang. (tungku : 10)
|
Gugur ialah salah satu tokoh pemerkosa
inen ipak, dalm bimbang ia melarikan diri kehutan, masih dalam tahap
pengenalan, namun ia bukan tokoh utam dan bukan sentral yang ingin diceritakn
jika merujuk tokoh. Ini adalah babak pengenalan
tahap 1.
|
(Tahap peristiwa / pengenalan bagian 2)
|
No
|
Hal
|
Kutipan
|
Keterangan
|
|
|
Peristiwa 2.1
|
Alunan tawa mereka terdengar hingga
kerumah ume , rumah yang terletak
di ujung akhir persawahan kampung , dengan nada yang khas dengan jengkok
irama tersendiri dilakukan secra bersam-sama , seperti nyanyian koor dalam
sebuah orchestra di gedung pertunjukkan
megah berkelas (tungku :39)
|
Masih dalam tahap awal namun banyak
peristiwa yang mengundang ke gundahan para tokoh. Percikan-demi percikan
kejadian semkain membuat situasi pelik. Namun saya sebagai penganalisi merasa
tahap ini masih rawap awal dan peyetuasian dikarnakan novel ini sendiri
adalah novel tentang konfik, wajar saja banyak peristiwa yang mengundang keresahan
bagi para tokoh didalamnya.
|
|
|
peristwa
|
Langkah apa itu ? apakah ia akan
menghampiri ruamah lalu bertanya diman suami mu ? golongan yang manakah yang
datang itu , GAM atau TNI atau para penghianat?
|
|
|
|
|
Demikain yang menimpa keluarga meulem.
Sagum , putra satu-satunya keluaga itu menghilang secara mistrius . tidak
diketahui diman. (tungkub: 42)
|
|
|
|
|
Aneh dan rsanya sangat mustahil , ia
menghilang begitu saja tanpa jejak. Padahal baru tiga hari yang lalu ia
menemuiku untuk mengangkut buah pokotnya kekota bseok pagi (tungku 44).
|
Gum adalah tokoh yang menghilang
secara mistrius, tidak diketahui sebab dan mengapa ia menghilang serta tak diungkap
mengapa ia menjadi target incaranm dugaan demi dugaan kembali hadir dalm
benak warga dalam novel. Siapa pelakunya GAM atau TNI atau jangan-jangan
penghianat? Masih belum terungkap
|
|
Berani saya katakana beberpa peristiwa
diatas adalah, tahap awal namun syrat akan unsur sebuah konflik. Pembenaran
yang saya dapat katakana bahwa tahapan pengenalan dalm novel ii adalh sebuah
percikan konflik namun tidak meruncing bahkan sangat tumpul.
|
|||
Tahap tengah /tahap generating circunstances :tahap pemunculan komflik bagian 1
|
|
hal
|
kutipan
|
Keterangan
|
|||
|
|
Percikan
konflik
|
Jiwanya
kosonng” kata dukun tua berjangkut itu. Tapi penyakit dan ketakutan mila
belum ada perubahan sama sekali.
“ia
mengalami semacam trauma , tarauma berat . mungkin ini sebagai akibat dari
kejadian itu yang cukup membuatnya terpukul. (tungku: 53)
|
Kejaidn
demi kejadin kembali membuat plik, kini keresahn para tokoh mulai
tergambarkan. Percikan konflik, kegundahn dan hal-hal yang menyangkut sikis
tokoh mulai muncul . peristiwa ini dipicu oleh kembalinya ada orang yang
diperkosa. Dan kembali praduga siapa pelukanya kembali munncul.
Dan
sebenrnya keresahan yang dialami tokoh terkait antar dia den lingkuangan
|
|||
|
|
|
Berbeda
dengan inen ipak, mila justru gagal diperkosa oleh sejumlah orang berseragam
di bawah pohon kopi robusta milik amnya sendiri, karna keburu dibubarkan oleh
suara gongongan anjing dan langkah orang sekampung yang seketika berdatagan
setelah teriakan mila mengema keseluruh pematang perkebunan kopi. (tungku: 55)
|
||||
|
|
|
Mila,
ketakutan luar biasa, ketika ia tengah asyik asyiknya memetik buah kopi ,
orang-orang bercadar hitam itu menyergapnya dari belakang. Mereka demikian
kuat dan keker, memeluk dan mencium wajah putihnya. (tungku : 55)
|
||||
|
|
|
Tak
ada yang berani membuat tuduhan atau sekedar menebak siapa pelukanya: Gam
atau prajurit TNI yang sedang syahwat( tungku :56)
|
|
|||
|
Penaganalisi menemukan sesuatu yang menarik,
penceritaan tidak langsung pada tahap selanjutnya atau konflik jika kita
merujuk pada acuan kajian penganalisisan. Justru dalam novel ini pengenalan
beberapa tokoh/ kajian/ peristtiwa kembali muncul. Saya mengangap ini sebuah
khasnya novel. Namun tentu saja tahapan selanjutnya kembali pada acuan
kajian, maksunta sebelum kobflik terjadi , pengarang membuat kisah lain
diluar dari plot awal “mungkin pengarang berniat membuat plot campuran” namun
kurang sempurana karana berpotensi mengalihkan focus pembaca untuk meneruskan
bacaan.
|
||||||
|
|
|
|
|
|||
Tahap rising
action tahap peningkatan konflik
|
No
|
Hal
|
Kutipan
|
Keterangan
|
|
|
Peningkatan
konflik1
|
Ada
suara dari luar rumah yang mencurigakan dua manusia berbeda umur itu.
“suara
apa ?”
“yang
jelas itu bukan suara cerecet dan kerudik
makam anan? Bukan !
“yak
au hampir benar inen ipak”
“bukan
hampir benar anan tapi benar!”
“ya
, itulah susar tumit sepetu iras!
Tampaknya
mereka sedang berpatroli dikampung kita mala ini” (tungku 82)
|
Konflik
didalam konflik, novel ini mengisahkan tentanng suasan konflik dimasa silam ,
jelas banyak perstiwa yang bercirikan konflik dal penceritaan.
Namun
pada tahap ini semakin jelas siapa yang disalahkan , yakni gam, tni, dan
penghianat.
|
|
|
1.2
|
“inen
ipak bergegaslah kau engkau bersembunyi! Sembunyilah kebalik kebalik susunan
tikar itu cepat .
“biar
aku yang…” (tungku :83)
|
|
|
|
1.3
|
Semoga
mala ini tidak terjadi apa-apa inen ipak” kata anan sambil merapatkan tangan
kirinya ke dada, tangan kanannya masih memegang tembakau sirih di ujung jari
telunjuk dan ibu jari. (tungku :85)
|
|
|
|
Peningkatan
2
|
“anan-
…..anan.. rumahku. Anaaan . rumahku…!
Tangisan
itu semkin mendekat, semakin perih dan semakin luka . derap jejk laki-laki
terburu-buru menaiki tangga , berderak mendobrak pintu lalu tersungkur dengan
segala kehilangannya. (tungku: 93)
|
Ini
adalah rentetan peristiwa yang tanpa pelaku, kejadian demi kejadian yang tak
memiliki tersangaka , para tokoh hanya memiliki dugaan dan asumsi siapa
pelaku dari musibah yang ada.
|
|
|
Peningkatan
2.1
|
“sudah
kuduga . sudah kuduga ! kebodohan itu akan terulang lagi . sudah kutebak
kedugaan ini akn terjadi lagi. Penghianatan adalh penyebab ini semua ini.
Penghianat yang tak termaafkan ! keldai-keledai biada . oooo hiiiiiieeeey
Hiiiieeeyy
( tungku : 95)
|
Konfik semakin teras, berdasarkan
rentetan cerita pembaca sendiri dapat mengenaili keadaan tersebut.
|
|
|
|
Jangaan!
Kita kemari bukan hendak memetik ganja –ganja itu, tetepi mencari dan
menangkap gegur, itu tugas utam kita , ingat ituu!
Tapi..”
“alah
sudah. Sudah . petik secukupnya lalu kita lanjutkan perjalanan .”
(tungku
: 111)
|
|
|
|
|
“
gegur, gegur bangun. Bangun kau . pelarian mu telah selesai .
Sejenak
ia mengudap matannya . ia tak habis pikir, ternyata tidur pulasnya ditontoni.
Ia tidak mengira orang-orang suruhan anan akan tiba di persembunyiannya yang
jauh ditengah hutan belantara. (tungku : 113)
|
|
|
|
|
“maktum
, rusli ikat tangannya “
Dengan
sigap kedua nama yang disebut itu
melaksanakan perintah , membalikkan badan lalu mengikat tali dari rotan yang
sudah dipersiapkan ( tungku 113)
|
|
|
|
|
“gegur
, setalah sebelas orang yang memberikan kesaksian , tak satupun diantara
mereka , yang tidak menguatkan keterlibatan mu “
“tetapi
anan, bukankah ? diantara sakit tangannya yang terikat oleh tali rotan ,
gegur mencoba angkat bicara . tetapi dengan cepat pula anan memotong selaan
itu.( tungku : 143)
|
|
|
|
|
|
|
Tahap klimaks tengah, climax
|
No
|
Hal
|
Kutipan
|
Keeeterangan
|
|
|
klimaks
|
“benar
dia orang mengaku sebagi panglima itu?”
(tungku 144)
|
Bisa
dikatakan tahap ini yang menegangkan. Tertanggapnya gegur semkin mencekam
keadaaan. Tuduhan demi tuduhan kepada gegur terus digulingkan. Semua warga
kampung memiliki dendam tersendiri terhadap gegur. Ini yang menyebabkan
ditangkapnya gegur sebagi peristiwa ..
|
|
|
|
Perempuan
bisu seketika itu mangangguk dan menujuk-menujuk gegur dengan jari telunjuk
kirinya (tungku: 144)
|
|
|
|
|
“betul
ia yang mencuri bahan makanan para pengungsi gudang dekat rumah mu ?”
Perempuan
itu menganguk anguk dan menunjuk gegur dengan telunjuk tangan kirinya.
(tungku:144)
|
|
|
|
|
Untuk
kesekian kalinya wanita itu menganguk , dan menunjuk –nunjuk geur dengan jari
telunjuk kirinya. Geram ia mendekati gegur, lalu dengan sekali hentak tangannya
menumbuk kepla gegur , membuat gegur tersungkur( tungku : 144)
|
|
|
|
|
“
anan biarkan aku yang membereskannya”
Secepat
kuda lari, harun menarik pedangnya dari sarung . geram dan kebencian muncul,
memuncak seketika . bayangan raut wajah ayahnnya yang mati akibat ula gegur
yang menuduh nya sebagi mata-mata gam
melintas dimatanya dengan jelas. Tidak harun tidak. Tugas kalian telah
selesai dengan membawanya kemari (tungku : 147)
|
|
|
|
|
“kibasn
pedang tajam itu membentur leher bagian belakang Gegur. Lalu terdengar benda
jatuh menyentuh bumi. Benda itu terguling-guling sebentar lalu berhenti.
(tungku : 150)
|
|
|
|
|
Setengah
hari mayat itu dibiarkan tergeletak begitu saja , hanya ditutupi dengan
lembar daun pisang (tungku 151)
|
|
Tahap akhir/ tahap denoument
|
No
|
Hal
|
Kutipan
|
Keterangan
|
|
|
Peleraiaan.
|
kibasn
pedang tajam itu membentur leher bagian belakang Gegur. Lalu terdengar benda
jatuh menyentuh bumi. Benda itu terguling-guling sebentar lalu berhenti.
(tungku : 150)
|
Terbunuhnya
gegur salah satu berkahirnya sebuah perkara dan akan di ikuti dengan perkara
lainnya.
|
|
|
|
Ada
kepuasan yang tak terhingga dimata beberapa warga, kegerian sirna bersama
kecuran daarah memancur. Ada kelegaan maha sempurna, terasa didada. Ada haru
tersembunyi dilubuk hati (tungku 151)
|
Walau
sebagian mengagngap ini sesuaruyang berlebihan namun dimata sebagian warga
kampung kematian gegur adalah sebuah kemenangan
|
|
|
|
Kampung
gerute menjadi terang benderang . sinar matahari sempurna meskipun tujuh
gunung , tingi-tingi mengitarinya mengepungnya dari empat arah mata angina .
(tungku : 155)
|
Seakan
akan kehidupan setelah kematian gegeur, dan perjanjian damai GAM dan RI.
Menjadi seseuatu yang dapat merubah nasip warga.
|
|
|
|
Sudah
satu tahun empat bulan dua puluh hari pertanyaan itu tidak pernah lagi ,
mendengar atau bercerita yang berkenaan dengan kebakaran rumah, kamatian atau
penculikkan .
(tungku 156) |
|
|
|
|
Sementara
acara peminangan itu berlangsung di banda aceh , baru saja digelar hajatan
memperingati ditanda tanganinya perjanjian damai antara GAM dan TNI di
helsingki. (tungku :162)
|
|
|
|
|
Harapan
dan mimpi mereka tentu sama dengan harapan dan mimpi masyarakat kampung
gerute. Bagaimana kedamain terus berlangsung dengan aman , sehinga kehidupan
dapat lebih tenang dan dapat lebih baik dimasa yang akan datang.(tungku : 162
)
|
|